Tips Membunuh Rasa Kecewa pada Perusahaan Tempat Kerja (Berdasarkan Pengalaman Pribadi)

rawpixel.com

Sering ada pertanyaan yang dilontarkan pada saya, "Apa sih rahasianya, sudah 35 tapi masih tampak 20an?" dan jawaban saya selalu sama: legowo atau dalam bahasa Indonesia artinya ikhlas. Ya. Ikhlas dalam segala hal, termasuk dalam bekerja.

Saya bekerja untuk salah satu media online besar di Indonesia dalam hitungan total 6 tahun, tidak termasuk resign di tengah jalan untuk jadi freelancer di perusahaan yang sama. Bisa dibilang, saya bergelut dengan perusahaan ini selama 7 tahun hingga 2018 lalu.

Awalnya, tentu saja semua terasa berat. Harus mengerjakan 12-15 tulisan dalam sehari, bikin kepala saya terbakar rasanya. Saya termasuk penulis yang sangat lambat, sehingga tak jarang harus pulang lebih larut untuk menyelesaikan target pekerjaan harian.

Menggerutu? Ya tentu saja! Tapi apa boleh buat? Jika teman-teman lainnya bisa menyelesaikan jobdesk yang sama hanya dalam hitungan jam kerja, maka saya adalah kroco di mata para atasan. Kena marah? Tak sekali dua kali! Sampai-sampai saya hampir menyerah.

Sampai tiba-tiba saya berada di satu titik yang membuat saya berseteru dengan diri sendiri, antara ingin mengakhiri semuanya, atau terus berjuanh demi dapur yang mengepul. Ya tentu saja perut keluarga lebih penting toh. Saya orangnya realistis.

Sejak itu, saya berusaha, mencari cara agar jangan sampai saya merasa tertekan dan stres berlebihan karena pekerjaan. Saya yang awalnya kecewa, karena merasa imbalan yang diberikan perusahaan tak sebanding dengan apa yang saya kerjakan, akhirnya mulai sadar.

Kembalikan Pada Diri Sendiri


Saya bercermin, berusaha melihat apa-apa yang ada dalam diri saya, dalam konteks pekerjaan. Saya membandingkan diri dengan teman-teman lain yang bisa menyelesaikan pekerjaanya. Dengan jumlah target yang sama, seharusnya saya juga bisa seperti mereka.

Lalu saya mengamini bahwa sayalah pusat kesalahannya. Saya membuang terlalu banyak waktu untuk hal-hal di luar pekerjaan, seperti break di pantry berlama-lama. Saya juga sering malah asyik sendiri dengan media sosial di gadget maupun PC, sampai lupa waktu.

Kesimpulannya, ada banyak hal yang perlu diperbaikin dari diri saya sendiri. Pelan-pelan saya kembali menyesuaikan diri, meski itu sangat lama, sampai-sampai para atasan saya sudah muak. Sampai saat saya membuktikan kemampuan, dan diangkat jadi editorial leader.

Bekerja adalah Sekolah yang Dibayar


Kalimat 'bekerja adalah sekolah yang dibayar' saya tancapkan dalam-dalam di otak. Setiap mulai merasa kecewa, merasa apa yang saya dapat tak sepadan dengan apa yang saya kerjakan, saya akan mencari hal-hal positif dari pikiran-pikiran negatif itu.

Saya lalu teringat, saya dapat banyak hal dari perusahaan tempat saya bekerja. Saya belajar banyak hal untuk pertama kalinya dari sana. Saya seperti sekolah, tapi bedanya di sini saya tidak membayar untuk semua ilmu yang saya dapat, dan justru dibayar.

Imbalan sepadan dari apa yang saya kerjakan di perusahaan itu, akhirnya saya rasakan sekarang. Bersyukur, begitu mudahnya saya mencari pekerjaan, karena nama besar perusahaan tempat saya bekerja sebelumnya sudah terpercaya menghasilkan alumni yang hebat.

Jangan Jumawa akan Apa yang Kamu Berikan pada Perusahaan


Saya lebih banyak bertanya, apa yang sudah perusahaan beri untuk saya. Gaji yang mungkin menurut banyak orang tidak sepadan dengan apa yang saya kerjakan, rasanya jadi tak masalah jika mengungat apa yang sudah perusahaan berikan untuk saya.

Asuransi yang memudahkan saya dalam berobat. Biaya dokter dan obat-obatan yang tak pernah saya bayar sendiri selama bekerja di sana, itulah yang menyadarkan saya bahwa mereka telah memberikan yang layak. Belum lagi sesi senang-senang setiap bulannya.

Maka saya tak lagi mengungkit seberapa banyak pekerjaan yang dibebankan pasa saya. Termasuk tak lagi memikirkan seberapa banyak jam yang saya korbankan untuk mengurusi pekerjaan, di luar jam kantor yang sudah ditentukan. Semua luans sudah bagi saya.

Legowo adalah Kunci


Ketimbang berlarut-larut menggerutui gaji yang dirasa kecil, atau makan siang yang disediakan begitu low budget, lebih baik legowo saja. Menjalani segala hal dengan ikhlas, itulah yang membuat saya bahagia dan bekerja dengan senang hati.

Mungkin ini sangat klise bagi sebagian orang, tapi begitulah adanya. Saya bekerja mengikuti alurnya. Kadang di atas, mentereng dengan prestasi, dan kadang juga di bawah, terpuruk tertimbun hutang pekerjaan yang tak kunjung kelar.

Kalau sudah begitu, biasanya saya memberi asupan kebahagiaan diri dengan cara lain, seperti makan siang di luar kantor misalnya. Uang bisa dicari, dan kebahagiaan... kita sendiri yang ciptakan. Bunuh rasa kecewamu pada perusahaan, dengan menumbuhkan rasa ikhlas.

Comments