Baca Tiga Buku dalam Seminggu, Masa Harus Tunggu Sakit Dulu?

Memang ada beberapa hal besar yang berubah sepanjang mengalami sakit di awal tahun ini. Seperti yang sudah saya ceritakan di tulisan sebelumnya, hampir tiga minggu ini saya berusaha untuk hidup sehat. Selain itu, saya juga mulai rajin baca buku, kalau sedang tidak ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan.

Baca buku dulu adalah hobi saya. Hampir setiap bulan saya menyisihkan uang untuk membeli setidaknya satu buku yang saya inginkan. Jika ada rezeki lebih, atau ada yang berbaik hati memberi hadiah, dalam sebulan saya bisa punya sampai lima buku baru. Dibaca semua? Dulu iya, meski tak langsung habis dalam sebulan.

Saya suka sekali buku. Baunya selalu bikin terlena, dan tak sadar tahu-tahu sudah hampir setengah gaji bulanan yang harus dikeluarkan untuk membayar. Dulu ya ikhlas saja, yang penting kebutuhan primer rumah sudah terpenuhi. Apalagi waktu itu coffee shop belum menjamur, jadi jajannya kalau bukan baju second ya buku.

Sudah hampir sepuluh tahun belakangan ini saya tak lagi rajin membeli buku. Lambat laun, minat membaca pun turun drastis. Bahkan pernah dalam satu tahun saya tidak membaca buku sama sekali. Toko buku tak lagi jadi tujuan kedua setelah belanja bulanan di supermarket selepas terima gaji. Ya, karena memang nongkrong di coffee shop terasa lebih seru belakangan ini.

Dikasih sakit di awal tahun. Satu minggu tanpa bisa melakukan apa-apa, dan satu minggu sisanya harus dihabiskan di atas tempat tidur. Bosan. Main hape, kepala pening. Tidur melulu juga capek. Akhirnya saya tengok rak buku, dan memilih satu di antaranya, yang paling tipis. Cerita Calon Arang, yang ditulis Pramoedya Ananta Toer, penulis favorit sejuta umat idealis.

Tak sampai setengah hari, saya melahapnya habis. Selepas itu, langsung bingung cari buku lagi. Kali ini saya ambil yang sedikit lebih tebal, Animal Farm karya George Orwell. Lumayan panjang proses membacanya. Walaupun bahasa terjemahannya sangat ringan, ceritanya juga sangat mudah dibayangkan, tapi kisahnya tak semudah itu untuk dicerna.

Dua hari penuh saya habiskan waktu untuk menyelesaikan buku kedua, sebelum akhirnya beranjak ke buku terakhir. Kali ini saya pilih yang jauh lebih tebal, supaya bisa lebih panjang waktu bacanya. Aroma Karsa milik Dewi Lestari, kado ulang tahun ke-35 lalu dari adik saya yang jadi pilihan. Namun ternyata 700 halaman lebih di dalamnya malah bikin saya makin semangat tak terputus bacanya.

Aroma Karsa habis dalam tiga hari, saking serunya kisahnya. Bapak saya sampai heran, karena selama ini beliau memang selalu lebih cepat ketimbang saya dalam menyelesaikan membaca sebuah buku. Iya, saya stop membaca hanya pada saat tidur saja. Saya pun heran, tapi saya pikir ya itu memang karena tak ada hal lain yang bisa saya lakukan di atas tempat tidur selain membaca.

Dengan tuntasnya tiga buku tersebut, saya menyatakan diri punya hutang menulis tiga review, yang sampai sekarang belum terealisasi. Namun segera saya akan menyelesaikannya, setelah pekerjaan beres nanti. Terkadang saya merasa bosan kalau sedang ada pekerjaan menulis, lalu masih harus menulis blog sendiri pula. Jadi, saya suka memberi jeda dulu untuk istirahat.

Dengan tuntasnya tiga buku itu pula, saya jadi berpikir... Kalau sedang tidak melakukan apa-apa sama sekali, saya bisa menyelesaikan membaca 1000 halaman lebih, seharusnya saat hari-hari mulai normal seperti sekarang, saya bisa setidaknya mencicil 20 halaman sehari. Masa harus tunggu dikasih sakit dulu, baru rajin baca buku lagi?

Well, selain menjalani pola hidup sehat, sepertinya rutin membaca buku juga harus masuk dalam list goals for 2020 saya. Setidaknya, dalam satu bulan saya harus bisa baca satu buku tebal atau dua buku yang lebih tipis. Selain tubuh yang dilatih, otak juga harus dong.

Comments