Cerita Selepas Menghilang Dua Minggu, Divonis Infeksi Saluran Pernapasan Berujung Asthma

Akhirnya pulang ke rumah mas suami setelah dua minggu sakit dan seminggu diungsikan ke rumah Mbah Uti. Rasanya seperti hidup lagi, berada di dekat suami dan apapun yang ada di dalam sini. Semangat nyala lagi, setelah sempat redup dan merasa useless.

Mengawali 2020 dengan sakit paling parah sepanjang 35 tahun lebih hidup saya. Hari ketiga di Januari, saya batuk-batuk parah dan tiba-tiba demam. Saya pikir ini biasa, seperti bulan-bulan sebelumnya, menjelang haid selalu daya tahan tubuh melemah dan tepar.

Tiga hari demam, saya rasa ini sudah berlebihan. Batuk yang makin bikin tidak nyaman, akhirnya membuat saya menyerah untuk memeriksakan diri ke klinik. Infeksi saluran pernapasan, begitu kata dokternya. Sudah 5 tahun sejak terakhir kalinya saya terserang ISP, dan dia datang lagi.

Obat untuk tiga hari ke depan, tak kunjung membuat kondisi saya membaik. Terhitung seminggu sudah keadaan jadi kacau. Di tengah rasa sakit, sedih, dan cemas yang saya rasakan, mas suami malah menambah rasa kecewa saya pada diri sendiri. Mungkin dia kelelahan merawat saya, sampai terlontar kalimat-kalimat yang bukan malah menyemangati, tapi justru bikin makin down.

Akhirnya saya memutuskan untuk tinggal sementara di rumah Mbah Uti, agar ada yang menjaga dan mengurus saya, dan mas suami bisa lebih tenang bekerja. Namun keadaan memburuk. Sesak makin nyeri di dada, dan dalam seminggu saya harus keluar masuk IGD dua kali.

Hampir dua minggu, dan keadaan tak kunjung membaik. Terapi nebule sudah diberikan, tapi sesak di dada tak kunjung mereda. Dokter di klinik angkat tangan dan merujuk saya ke ahlinya. Saya disarankan datang ke dokter paru di salah satu rumah sakit kelas C agar tetap bisa memakai BPJS.

Kunjungan pertama ke dokter paru, Senin, 13 Januari. Saya deg-degan setengah mati. Terbayang sudah nama-nama penyakit aneh yang bakal divoniskan dokter pada saya. Resah dan makin bikin sesak rasanya, tapi saya berusaha terlihat santai. Dokter memeriksa, lalu meminta saya untuk rontgent, tanpa memberikan vonis apa-apa hari itu.

Saya turun ke bagian radiologi berbekal lembaran rujukan dari dokter. Untuk kedua kalinya saya merasakan yang namanya rontgent. Pertama waktu masih umur 5, iya, 30 tahun yang lalu. Saya ingat waktu itu saya berbaring di atas semacam meja dan di atas saya ada monitor kecil memutarkan video Si Unyil. Kali ini beda, saya berdiri menghadap tembok.

Dokter meminta saya kembali dalam waktu tidak sampai seminggu, untuk kontrol dan baca hasil rontgent. Sabtu, 18 Januari, saya kembali menemui beliau beserta hasil rontgent yang sudah saya intip kertasnya. Tertulis di sana: pneumonia. Sepanjang mengantri giliran bertemu dokter, saya sangat resah. Googling arti kata itu, baca beberapa artikel, dan belum bisa meredakan keresahan.

Nama saya dipanggil. Cepat-cepat saya masuk ruangan, dan menyerahkan hasil rontgent pada dokter. Beliau tersenyum, "Bagus ini hasilnya. Semua baik."

Saya lalu mempertanyakan soal pneumonia yang tertulis di kertas dalam amplop rontgent. Dokter bilang, ini hanya sedikit saja, sambil menunjuk bagian yang saya pun tak tahu itu bagian mana dari paru-paru saya. Selepas itu, saya diperiksa lagi. Masih sesak sedikit, tapi better than minggu sebelumnya. Obat yang sama pun diresepkan.

Ada yang berbeda, kali ini saya dapat obat hisap. Ini karena ada indikasi sedikit asthma, dan akhirnya saya harus mendapatkan terapi tersebut. Tak pernah sebelummya terlintas dalam bayangan kalau akhirnya saya harus berkenalan dengan inhaler ini. Seretide Diskus namanya. Dan saya berharap ini bisa mengembalikan kondisi kesehatan saya agar normal lagi.

Hari ini, saya di rumah mas suami. Dalam keadaan lega karena hasil rontgent dinyatakan bagus. Lega karena vonis dokter tak ada penyakit yang cukup serius. Lega karena akhirnya bisa melihat mas suami tidur seperti bayi di samping saya.

Udara pagi ini beda dari biasanya, terasa lebih segar. Ya, seminggu setelah kunjungan pertama saya ke dokter, setiap pagi saya jalan kaki di sekitatan rumah Mbah Uti. Dan pagi ini saya jalan kaki di sekitaran Sawojajar, membeli jajan pasar di depan minimarket, bertemu mlijo di kampung sebelah dan menyempatkan beli kacang panjang dan tempe.

Akan seperti ini, sampai saya tua nanti. Berjalan kaki pagi-pagi. Berdiri di lapangan depan rumah bermandi sinar matahari. Baru kemudian beraktifitas. Harus sehat terus pokoknya!

Terima kasih paling besar buat mas suami, dengan segala kesabarannya, memenuhi tiap permintaan saya selama bedrest kemarin, mengantar jemput ke dokter, mengurus pemberkasan BPJS, menunggui obat, termasuk menghadapi kakacauan hati saya. You are the best, mas!

Anyway, ada yang sudah rindu Kopi Kelapa Beneran kah? Besok saya seduhkan ya... ☺

Comments

Post a Comment