Kecanduan Kopi Fancy dan Perbandingan Harga dengan Setengah Sak Semen


Kopi kekinian mana yang paling kamu suka? Saya tidak punya favorit meski saya pernah kecanduan minum kopi kekinian. Menurut saya, masing-masing punya khas rasanya sendiri. Di lidah saya, rasanya hanya enak dan tidak enak. Untuk golongan yang enak, saya ikhlas walau harus membayar sampai 30 ribu rupiah per cup. Bahkan untuk satu menu minuman di Starbucks seharga hampir 60 ribu rupiah pun saya masih ikhlas. Sedangkan untuk golongan tidak enak, saya tak pernah mengulang membelinya lagi, meski hanya dibanderol harga 10 ribu rupiah per cup.

Jual Kopi Kekinian dengan Harga Tinggi


Belakangan ini, saya memulai bisnis kopi kekinian saya sendiri. Kopi Kelapa Beneran namanya. Sebenarnya ini proyek bareng sepupu saya, yang karena beberapa halangan akhirnya belum bisa kami jalani bersama-sama. Saya tidak membuka kedai untuk kopi ini, hanya menjualnya secara online atau boleh diambil sendiri ke rumah. Saya mengemasnya dalam botol kaca, dan hanya menyediakan 6 sampai 8 stok setiap harinya, tergantung perbandingan jumlah pesanan antara yang original dengan yang pakai susu.

Tanpa ragu, saya memberi harga 35 ribu rupiah per botol untuk yang pakai susu, dan 40 ribu rupiah untuk yang original. Kenapa berani? Karena saya meraciknya dari kopi yang enak dan air kelapa muda asli, tanpa ada campuran air mineral ataupun es batu. Beberapa teman bilang, saya terlalu idealis. Dengan harga tersebut, katanya akan susah menjaring pembeli. Sarannya, pakai saja kopi yang lebih murah dan bahan yang tidak original (seperti essence, syrup, dan perisa semacamnya) tapi jauh lebih murah, lalu bisa turunkan harga jual, dan jadi laris deh.

Kontroversi Harga Kopi Kekinian


Saya bersikeras menjalani apa yang saya inginkan saja. Untuk bahan berkualitas, serta rasa yang unik dan enak, pasti ada lah mereka yang ikhlas merogoh kocek 35 sampai 40 ribu rupiah. Untuk 300 ml kopi dengan rasa yang bold, tanpa campuran air atau setengah gelas es batu, pasti ada lah mereka yang merasa itu bukan harga yang mahal. Well, melabeli sesuatu dengan kata murah atau mahal itu relatif, tergantung bagaimana pola pikir seseorang. Kebanyakan mereka kicep duluan dengar sebotol kopi dihargai 35 bahkan 40 ribu rupiah, tanpa mencari tahu lebih dulu gimana rasanya, dan alasan kenapa harganya segitu.

Pun dengan kopi kekinian lainnya yang menjamur di Kota Malang ini, rata-rata dibanderol harga 18 ribu rupiah. Ada yang di bawah itu, ada pula yang di atasnya. Berapapun harganya, kalau saya ingin, saya akan beli. Saya baru akan melabeli produk tersebut mahal atau murah, setelah tahu rasanya. Fore Coffee contohnya, yang katanya mahal, yang akhirnya saya bela-belain pergi ke Surabaya untuk mencobanya. Buat saya, 28 ribu rupiah untuk satu cup tidaklah mahal setelah menggenggam kemasannya, apalagi setelah tahu rasanya.

Satu Cup Kopi Kekinian Setara Setengah Sak Semen


Beberapa waktu lalu sempat lihat sebuah twit di timeline yang isinya begini, "Jadi di sini aku cuma mau ngasih tau aja, harga segelas minuman boba setara dengan setengah sak semen." Twit tersebut banyak yang share dan akhirnya viral. Beberapa yang ikut dalam hype-nya juga ada yang mengaitkannya dengan harga kopi kekinian, atau ada yang bilang kopi fancy. Netizen tiba-tiba jadi sok-sokan menyadari bahwa duit yang keluar buat jajanan mereka di cafe setiap harinya, bisa buat membangun rumah jika dikumpulkan dalam kurun waktu tertentu.

Rata-rata harga satu sak semen memang 60 ribu rupiah, dua kali lipat harga kopi kekinian yang hampir setiap hari kamu konsumsi. Coba bayangkan kalau uang untuk beli kopi itu dimasukkan ke dalam celengan ayam. Dalam satu bulan, yang benar-benar candu kopi sampai harus dua kali pesan dalam satu hari, bisa menyisihkan uang setidaknya untuk membeli 15 sak semen. Kalau yang sehari sekali beli kopinya, berarti bisa dapat setengahnya, sekitar 7 sak semen.

Semen Satu Rumah Setara 40 Cup Kopi Kekinian


Dengan 15 atau 7 sak semen, kamu bisa bikin 2 sampai 4 ruangan, tergantung luasnya. Untuk 1 m², sesuai perhitungan dalam SNI, biasanya dibutuhkan sekitar 10 kg atau 9,68 kg semen lebih tepatnya. Jika luas ruangan 18 m², kamu butuh sekitar 180 kg semen. Biasanya, 1 sak semen berisi 50 kg, dan jika butuh 180 kg maka kamu butuh sekitar 4 sak semen. Balik lagi ke kopi kekinian, 4 sak semen itu setara dengan harga 8 kali minum Fore, atau 4 kali minum cokelat signature-nya Starbucks.

Kalau kamu ingin bikin satu rumah sederhana dengan setidaknya lima ruangan, maka membutuhkan sekitar 20 sak semen. Itu berarti hanya butuh waktu sebulan lebih sedikit untuk mengumpulkan uang, bagi mereka yang setiap hari beli kopi atau minuman fancy lainnya. Well, kalau mau dihitung juga sekalian batu bata dan pasirnya, silakan hubungi tukang atau pemborong yang kamu kenal. Biar sekalian tahu perkiraan berapa tahun kamu harus puasa kopi untuk bisa mendirikan satu rumah.

Kopi Ya Kopi, Semen Ya Semen


Saya pribadi bukan orang yang sering jajan fancy. Bisa dihitung, dalam satu bulan mungkin hanya sekitar empat kali saya pergi ke coffe shop. Untuk makanan dan minuman, saya memang bukan orang yang pelit. Kalau ada duitnya, ya kenapa tidak kalau memang mau jajan di tempat fancy? Namun hitungan jajan saya, semahal apapun makanan atau minuman yang saya beli, tak akan sampai bisa dapat 20 sak semen dalam satu bulan. Dan kebetulan saya juga belum berniat membangun rumah sih. Entah kalau tahun depan.

Saya juga bukan orang yang rajin atau bisa menabung. Ada yang ditabung, ada pula yang akhirnya urgent memaksa untuk bobol tabungan itu. Dalam hidup saya selama 35 tahun, dan bekerja tanpa henti selama 17 tahun, perputaran keungan saya selalu cukup, tidak pernah kurang, jarang kelebihan. Namun dengan kondisi seperti itu, saya masih merasa baik-baik saja, meski sering ada penyesalan karena sampai di titik ini saya belum juga punya rumah yang saya beli atau bangun sendiri. Namun ya, saya masih yakin kalau segala impian kita, punya waktunya untuk terwujud.


Buat kamu yang setiap hari konsumsi kopi kekinian atau minuman fancy lainnya, jika memang itu bisa jadi semangat dalam bekerja, ya kenapa tidak? Kopi ya kopi, semen ya semen. Ada teman saya yang pernah bilang, tiap hari ke coffee shop tak mengapa, asal hasilnya bisa berkali-kali lipat lebih banyak dari pengeluaran tersebut. Kamu yang kerjanya freelance, mobile, meeting dengan klien di coffee shop, pasti relate dengan pemikiran seperti ini. Intinya, harga jajanan ibaratnya modal usaha kita, yang tentunya harus setidaknya balik tiga kali lipat sebagai penghasilan bersih.

Mau beli semen? Ya dari hasil yang didapat setelah ngopa-ngopi itu. Beli kopi supaya bisa melek di kantor, itu juga bisa masuk modal kerja loh. Kalau ngopa-ngopinya tak ada hasil cuan, cuma cangkruk haha hihi setiap hari, cuma tombo kepingin atau keperluan update di media sosial biar kelihatan hits, ada baiknya kamu mulai berpikir bahwa harga jajanmu sehari setara satu sak semen.




Comments