Menikahlah untuk Saling Melengkapi, Jangan Jadikan Suatu Masalah Sebagai Alasan untuk Berhenti

Tentang pernikahan dan segala yang melekat di dalamnya memang bukan perkara gampang. Kemarin, seorang teman meminta masukan tentang hubungannya yang sedang menuju serius. Dia dan pasangannya baru saling mengenal, tapi saya yakin mereka sudah cukup dewasa untuk akhirnya menuju ke sana. Saya kenal keduanya secara terpisah, dan harapan saya, mereka akan bisa saling mengisi.

Bagi saya, unsur penting dari hubungan rumah tangga adalah komunikasi. Termasuk di dalamnya adalah saling jujur atas apa yang terjadi, sehari-hari, bahkan kalau perlu setiap menit. Termasuk juga di dalamnya adalah mau berdiskusi mencari solusi saat ada problem, baik itu di dalam maupun di luar rumah. Satu saja kebohongan, mampu membuyarkan segalanya.

Saya bukan seorang expert dalam hal pernikahan dan rumah tangga, tapi saya mencoba memberi sedikit pandangan dari pengalaman saya, untuk teman saya ini. Tentu saja semuanya dari kacamata saya, tapi saya yakin dia punya prinsip sendiri dalam hidupnya, so apapun yang saya bilang ke dia tak akan ditelan mentah-mentah. Ada beberapa poin yang kami bahas kemarin, kira-kira seperti ini...

Hiduplah Saling Melengkapi, Bukan Saling Menuntut


Menikah adalah untuk saling melengkapi, bukan saling menuntut. Beruntung jika di awal sudah sempat punya perkenalan panjang sebelum menikah, sehingga sudah sama-sama tahu, setidaknya bagian luar dari pasangan kita. Beruntung lagi jika di awal sudah diajak masuk ke dalam kehidupannya, kesehariannya, lingkungannya, keluarganya. Niscaya rasa ingin menuntut tak akan ada jika kita sudah mengenal pasangan kita lebih dalam.

Bukan berarti yang baru kenal dan langsung memutuskan untuk menikah lantas tak bisa menjalaninya dengan mudah. Bagi saya pribadi, semua tergantung bagaimana kita menempatkan semuanya dari awal. Jika di awal kita sudah memantapkan diri untuk menjadi pelengkapnya dan akan menerima segala baik dan buruk yang melekat dengannya yang kita belum tahu, itu akan lebih mudah.

Ketika suatu saat kita sedih, marah, dan kecewa pada pasangan, mari kita tarik mundur, mengingat lagi janji pada diri sendiri yang sejak awal akan menerima segala baik buruk itu tadi. Jadi pelengkap, bukan saling menuntut, memang butuh hati dan jiwa yang besar. Terdengar klise dan mungkin tidak realistis bagi sebagian orang, tapi it's work for me, selalu mengingatkan diri kalau saya harus bisa mengimbangi mas suami dan tak boleh menuntut.

Jangan Jadikan Masalah Sebagai Alasan untuk Berhenti


Pernikahan, sebahagia apapun tampaknya, pasti ada saja masalah di dalamnya. Besar dan kecilnya, tergantung masing-masing orang untuk menyikapinya. Saya bilang pada teman saya ini, kalau hal paling fatal dalam prinsip saya adalah hadirnya perempuan atau laki-laki lain dalam hubungan. Kesalaham semacam itu yang bakalan susah saya maafkan.

Namun, saya bilang juga padanya, sekali lagi, tiap orang punya prinsip yang berbeda-beda dalam menyikapi masalah rumah tangganya. Ada kok mereka yang masih bisa memaafkan, menerima, dan bahkan membantu pasangannya untuk kembali ke jalan yang benar, setelah mereka berselingkuh. Pun dalam hal lain, masalah lain, bahkan hal prinsipil, ada kok mereka yang bisa lapang dada.

Bagi saya pribadi, apa yang bisa diperbaiki, ya sebaiknya diperbaiki bersama, bukan dijadikan alasan untuk berhenti. Berani menikah berarti sudah bisa berpikir dewasa. Alangkah baiknya untuk menjaga dan mempertahankan yang sudah ada, ketimbang menyerah dan memilih berhenti. Kuncinya adalah berani mengaku salah dan tidak gengsi untuk minta maaf. After that, segalanya akan lebih mudah untuk diperbaiki.


Well, sebenarnya obrolan kami kemarin cukup panjang. Namun inti dari semuanya ya dua hal di atas. Menuju pernikahan berarti juga menuju kehidupan yang sudah tak bisa membawa ego sendiri ke dalamnya. Jika kita yang bisa berbesar hati, maka lakukan, dan tak perlu menuntut dia untuk juga bisa berbesar hati. Jika kita yang bisa lebih bersabar, maka lakukan, dan tak perlu ikut terbawa emosi saat dia emosi.

Hei temanku... Menikah adalah berbahagia bersama! Selamat bersiap diri: hati dan pikiran. Semoga jalannya dilancarkan.

Comments