Kisah Magis dari Dapur, di Tengah Pandemi COVID-19

Kukis Magis

Tak pernah terbayang selama ini, kita akan mengalami kondisi seperti sekarang. Kondisi di mana kita harus berjuang beradaptasi dengan banyak hal baru yang disebabkan karena pandemi COVID-19. Penyakit yang disebabkan karena virus Corona ini memang mengubah banyak hal, in a negative and also positive way.

Bukan berarti tidak berempati, tapi saya pribadi lebih memilih untuk memikirkan hal baik saja dari semua kejadian ini. Ada banyak yang bisa kita petik dari perubahan habit orang-orang di seluruh dunia, terutama di Indonesia yang lebih relate dengan kita. Salah satunya, potensi yang akhirnya tergali.

Memang benar adanya ungkapan 'the power of kepepet' yang mungkin sering kamu dengar, terutama jika kamu tinggal di Jawa Timur.

Banyak orang dirumahkan sementara, atau bahkan diberhentikan dari pekerjaan. Beberapa usaha juga gulung tikar, karena memang tak memungkinkan untuk tetap bergerak. Lantas, bagaimana caranya untuk tetap bertahan 'hidup'? Hidup dalam arti sebenarnya, maupun hidup dalam kaitannya dengan jiwa.

Balik lagi ke poin 'the power of kepepet' dan 'potensi yang tergali' tadi. Keduanya berkaitan sangat erat saat kita dipaksa untuk terus berpenghasilan, semetara tak lagi punya pekerjaan. Kita dipaksa untuk memutar otak, mencari ide untuk melakukan sesuatu yang bisa menghasilkan uang. 

Kelahiran Kukis Magis

Sedikit sharing, saya sendiri tak pernah terpikir untuk bikin kue, apalagi menjualnya. Namun yang terjadi sekarang, saya harus memanggang kukis minimal 30 buah setiap harinya, sejak awal bulan April lalu. Semua berawal dari keisengan mencoba resep dan memberdayakan oven yang baru dibeli beberapa bulan sebelumnya.

Ceritanya, saya berbagi kukis itu untuk teman-teman dalam circle kecil. Senang sekali, karena ternyata mereka suka. Sampai kemudian tercetus ide dari mereka juga, untuk menjual kukis buatan saya. Tak terlalu panjang berpikir, seminggu kemudian saya memberanikan diri menerima 'tantangan' tersebut.

Bikin list kebutuhan dan menghitung biaya yang harus dikeluarkan untuk produksi pertama, dengan modal awal tak sampai 200 ribu Rupiah, saya nekat memulainya. Belum ada nama brand, belum ada pula media sosial khusus untuk promo, semua terjadi begitu cepat sampai saya menyadari bahwa ini semua harus dibenahi.

Menentukan nama, saya terinspirasi dari sebagian besar teman yang sudah pernah mencicipi dan bilang bahwa mereka merasa senang setelah memakannya. Ada yang sampai memesan tiga kali setiap minggu, ada yang sekali pesan dalam jumlah banyak. Karena keajaibannya bikin bahagia, tercetuslah nama Kukis Magis.

Berbenah dengan Kekuatan Magis

Berbekal nama Kukis Magis, terwujudlah pula nama Dapur Magis, yang akhirnya jadi nama akun media sosial untuk promo. Bagi saya, semua ini memang adalah keajaiban. Keajaiban dari dapur di rumah yang selama ini hanya digunakan untuk memasak air atau meramu sayur-sayuran yang sama menjadi beberapa jenis olahan makanan.

Membuat konten promo seadanya dengan bantuan aplikasi smartphone, Kukis Magis menjangkau makin banyak customer. Beredar tanpa label, rasanya seperti kurang spesial. Karenanya, hari ini saya mencoba mendesain label dan mencetaknya sendiri, numpang printer kakak. Meski sederhana, semoga ini diterima dengan lebih bahagia.

Berharap bisa segera punya packaging yang lebih niat, saya ingin Kukis Magis bisa berlanjut meski nantinya pandemi ini berakhir. Cita-citanya, harus bisa berinovasi dengan berbagai varian baru dan kualitas yang semakin baik. Lebih dari itu, harapannya Kukis Magis tetap bisa bikin banyak orang bahagia.

Nothing is Impossible

Seperti yang saya tulis di awal, tak pernah terpikir saya akhirnya bikin kue dan menjualnya pula. Kalau bukan karena pandemi, mungkin saya masih asyik saja menikmati penghasilan seadanya dari beberapa project menulis, sembari menunggu transferan dari suami yang studio musiknya -alhamdulillah- selalu ramai.

Patuh anjuran untuk social atau phisycal distancing dan menghindari berkerumun, suami saya menutup studio untuk latihan. Dia hanya menerima beberapa klien yang mau rekaman atau mixing lagu saja. Selama itu pula Tuhan memberikan kelancaran orderan Kukis Magis, sehingga masih ada tambahan penghasilan.

Sadar bahwa kami tak bisa mengandalkan hasil jualan kukis saja, studio pun akhirnya dibuka kembali awal bulan Mei. Kami memberlakukan anjuran untuk cuci tangan sebelum masuk studio, dan beberapa kali studio disemprot larutan pemutih pakaian. Alhamdulillah aman sampai hari ini, dan semoga selamanya.

Sementara itu penjualan kukis masih tetap jalan, namun saya membatasi orderan dengan jumlah maksimal 30 buah setiap harinya. Meski tak seramai di awal, tapi rasanya masih amaze akan perjalanan yang belum sampai dua bulan ini. Bersyukur saya punya banyak sekali teman yang dengan senang hati menjadi pelanggan.

Semoga keajaiban demi keajaiban akan terus terjadi dalam Dapur Magis ini.

Comments