Harus Menjalani Kuretase Sebagai Kado Ulang Tahun ke-34 di Weekend Ini




Copyright: Pexels.com
Sudah sebulan berlalu sejak saya kehilangan kesempatan punya bayi. Terancam keguguran, hingga akhirnya terdiagnosa hamil kosong, semua sudah berlalu, dan saya pun sudah move on, mencari kesibukan dan bersenang-senang. Hingga tiba waktunya kontrol setelah selesai haid, Jumat, 21 September malam lalu saya bertandang ke tempat prakter dr. Sutiyoso.

Menyampaikan sedikit keluhan tentang flek cokelat yang tak kunjung berhenti sejak mengalami pendarahan bulan lalu hingga selesai haid bulan ini, dokter pun kemudian memeriksa manual, as always. Tak ada yang berbahaya, tapi ada baiknya saya menjalani proses kuretase, agar rahim lebih bersih dan siap untuk proses program kehamilan selanjutnya.

Tak ada jeda panjang, malam itu juga saya diminta untuk puasa mulai jam 12, dan datang ke rumah sakit keesokan paginya. Proses kuretase dijadwalkan jam 8, namun karena harus menunggu dokter anestesi datang, kami pun menunggu sampai jam 9. Sepanjang persiapan, seperti biasa, suster di RS Mutiara Bunda dengan cekatan memberikan penanganan.

Suster di kanan saya memasang jarum di punggung tangan, yang nantinya dipakai untuk menyuntikkan segala macam cairan obat, sementara yang di kiri memeriksa alergi antibiotik dengan menusukkan jarum di lengan saya. Percayalah, saya sebenarnya orang yang penakut, terutama terhadap bau dan peralatan rumah sakit, termasuk jarum suntik.


Itulah mengapa suster ataupun dokter harus punya kesabaran tingkat dewa, agar bisa menenangkan pasien yang sudah tampak nervous sejak awal, bukan malah bikin deg-degan dengan kalimat-kalimat yang mengintimidasi. Untungnya saya tidak sampai ketakutan berlebih saat itu. Dengan tenang saya menerima setiap tusukan jarum yang dilakukan di tangan serta pinggul.

Entah kenapa, di hari ulang tahun saya yang ke-34, Sabtu, 22 September pagi itu saya cukup legowo menjalani proses kuretase, walau ada sedikit rasa takut dalam hati. Saya dan mas suami berangkat pukul 7.30, sudah mepet jam eksekusi, supaya tidak terlalu lama menunggu, yang takutnya malah makin bikin bimbang hati. Ya, walau pada akhirnya proses dimulai baru pukul 9 lebih sekian.

Nah, setelah semua obat masuk lewat jarum di tangan kanan, saya diminta tanda tangan beberapa dokumen yang berkaitan dengan tindakan ini. Saya harus membubuhkan paraf juga di beberapa kolom yang menjelaskan tentang obat apa saja yang masuk ke dalam tubuh saya. Sayangnya, saya lupa detailnya, hanya ingat ada obat mual dan antibiotik.

Sementara segala peralatan tindakan sudah berjajar rapi di meja besi di dekat kaki saya, dokter Dita, spesialis anestesi yang menangani saya datang sekitar pukul 9. Dia tampak masih muda, ramah, dan sama cekatannya seperti suster-suster di sana. Dia mengajukan beberapa pertanyaan seputar alergi, lalu mengatur posisi tidur saya agar lebih mendongak. Bantal diletakkan di bagian punggung, sehingga bagian dada lebih tingga dari kepala. Agar bisa bernapas kata dokter.

Kaki saya diposisikan di besi penyangga agar memudahkan eksekusi dokter. Alat detelsi detak jantung dan pompa tensi dipasang di tangan kiri dan kanan saya. Selang oksigen pun sudah diletakkan di lubang hidung. Sampai hal terakhir yang saya ingat, sambil menyuntikkan cairan ke jarum di punggung tangan saya, dokter Dita bilang, "Ini obat biusnya sudah masuk ya. Kalau pusing atau merasa ngantuk dibawa merem aja."

Rasanya seperti belum selesai dia menjelaskan dan saya mendengarkan, tiba-tiba kepala saya berputar warna-warni. Ada banyak kelinci pink berlompatan di padang rumput kuning. Langitnya seperti pelangi yang berputar spiral. Saya berusaha membuka mata saat sadar bahwa itu hanya ada dalam imajinasi, tapi susah banget.

Saya memutuskan untuk tenang dulu, sambil pelan-pelan merasakan sekeliling. Hal pertama yang saya sadari, posisi kaki saya sudah lurus, dan badan sudah tidur dengan bantal di bagian kepala. Saya berusaha meyakinkan diri, membuka paksa mata saya, dan mendapati besi penyangga kaki sudah dilepas. Meja besi berisi gunting, pisau, dan segala peralatan dokter itu pun sudah tak ada.

Saat bisa membuka mata, masih setengah sadar dan tidak, seluruh isi ruangan seperti dobel 4 dengan warna berbeda-beda. Seingat saya, beberapa suster berusaha mengajak saya bicara karena saya bersin-bersin dan batuk. Saya tahu saat selang oksigen dilepas, dan dokter Tis berpesan pada saya untuk datang kontrol hari Jumat depan. Saya ingat itu semua.

Masih pelan-pelan, saya berusaha memejamkan mata dan membukanya kembali, sampai saya yakin semua benar-benar normal dalam pandangan. Saya lihat di sekeliling saya sudah bersih. Lalu saya berusaha merasakan perut hingga vagina, dan tak mendapati apapun. Tak ada perih ataupun nyeri. Lalu saya bertanya pada suster, "Ini sudah selesai ya, sus?"


Suster menjelaskan bahwa proses kuratase tadi hanya memakan waktu tak sampai 10 menit. Itu berarti tak sampai pukul 10, semuanya sudah beres. Saya lalu melirik jam dinding, masih menunjuk angka 11 kurang. Setelah sudah merasa tidak pusing, saya turun dari tempat tidur, ke kamar mandi untuk buang air kecil sekalian berganti baju. Tetap tak ada rasa sakit atau apapun.

Syukurlah, ternyata yang namanya kuretase atau yang lebih sering disebut kuret ini tidak seseram cerita yang beredar selama ini. Saya sudah bisa duduk dan menyantap makanan yang disediakan di sana, lalu berbaring sebentar, dan pulang setelah jarum di tangan kanan saya dilepas. Saya ya pulang naik motor, dibonceng mas suami. Seperti tak terjadi apa-apa beberapa jam sebelumnya.

Well, kalau mama-mama di sini dihadapkan pada pilihan untuk harus menjalankan proses kuretase, jangan dulu panik atau takut yang berlebihan. Tetap tenang, dan berusahalah untuk legowo. Untuk proses kuretase sendiri, saya tak bisa menjelaskan detailnya, karena tentu saja saya tak bisa merasakan apa-apa di detik dan menit tersebut. Mungkin mama bisa baca-baca di sini: Pahami Ini Dulu Sebelum Menjalani Kuret.

Comments