Akhir Sebuah Penantian, Selamat Tinggal Hai Jabang Bayi Ibu

Copyright: Pixabay.com
Sudah (atau memang) tak ada kamu di dalam sini, di dalam perut ibu. Penantian di awal mula akhirnya harus usai lebih cepat. Jabang bayi yang minggu kemarin masih punya kesempatan 50% untuk tumbuh, kini melemah dan samar dalam dua garis itu. Tak apa, ibu sudah siap hati. Lihat! Tak ada air mata ibu kan?

Terima kasih nak, sudah memberikan istirahat panjang buat ibu dalam satu bulan ini. Mungkin memang ibu butuh itu, setelah tanpa kenal lelah terus bekerja. Mungkin memang ibu butuh itu, setelah hari-hari diisi dengan memikirkan orang-orang lain, tanpa punya waktu memanjakan diri sendiri.

Terima kasih nak, untuk kesempatan dekat dengan bapak, yang lebih banyak dari biasanya. Terima kasih untuk menunjukkan betapa banyak orang di sekitar kita yang sayang sama ibu. Terima kasih untuk hari-hari yang dipenuhi perhatian sepanjang sebulan ini. Terima kasih untuk menyadarkan bahwa ibu harus menjaga diri.

👶

Cerita ini akan saya mulai dari hari di mana dua strip itu muncul. Sudah hampir setahun kami menantikan momen ini setiap bulannya. Kala itu seorang teman berkomentar soal postur yang tak biasanya dari tubuh saya. Dia bilang saya hamil. Baru dua hari terlambat haid, tapi saya sudah telanjur penasaran.

Siang itu saya makan bakso sama mas suami. Sudah beberapa hari belakangan itu saya selalu merasa aneh tiap selesai makan, termasuk kali ini. Dalam perjalanan pulang ke rumah, belum jauh dari kedai bakso, saya minta berhenti di pinggir jalan untuk muntah. Lalu saya memutuskan untuk sekalian beli testpack saat itu juga.

Sampai di rumah, saya langsung test. Tanpa berekspektasi, saya meletakkan alat tes kehamilan yang sudah dicelup urine di atas toilet, sambil saya bebersih diri. Sesuai anjuran dalam kemasan, saya membaca hasilnya tak lebih dari satu menit kemudian. Garis dua tegas tertoreh di sana. Dalam hati ingin berteriak bahagia, tapi lebih baik tetap tak berekspektasi saja.

Mas suami bersyukur alhamdulillah melihat hasilnya, tanpa ekspresi yang berlebihan. Mungkin sama seperti saya, dia pun tak berekspektasi. 

Desember tahun kemarin, saya sempat keguguran, kehilangan kesempatan untuk punya anak, dan sakitnya bukan hanya fisik tapi juga batin kala itu. Saya harus banyak istirahat, itu kenapa berbulan-bulan saya hampir tidak pernah lagi beredar di tempat-tempat ngopi hits kota Malang. Jika ingin bertemu, teman-teman biasanya datang ke rumah.

Berkaca dari pengalaman itu, kami memilih untuk menunggu dulu sebulan. Jika memang sampai hari yang sudah kami tentukan itu hasil testpack masih positif, barulah kami pergi ke dokter. Semua keputusan yang kami ambil di awal kehamilan kali ini murni karena trauma pengalaman sebelumnya.

Seminggu setelah tahu hasil positif, saya test ulang dengan alat yang lebih mahal dari sebelumnya. Masih muncul dua strip, tapi masih juga tak berani bahagia berlebihan. Tetap seperti rencana awal, kami akan ke dokter setelah satu bulan terlambat haid. Saya pun hanya berbagi kabar dengan orang-orang yang harus tahu saja.

Memasuki minggu kedua, ada bercak cokelat di celana dalam. Nyeri yang sama seperti akhir tahun lalu pun terulang lagi. Tanpa banyak berpikir, sore sepulang kantor saya langsung meluncur ke tempat prakter dr. Sutiyoso, yang selama ini membantu program kehamilan saya. Masih sepi di sana, dan saya langsung bisa masuk tanpa harus lama mengantri.

Suster jaga sudah gemas, "Lho gimana, Mbak Wi! Sudah tahu positif kok ya nggak langsung ke sini?"
Di dalam ruang praktek, dokter pun heran, "Menghamilkan kamu ini bukan mudah lho. Jangan terlalu percaya diri. Seharusnya dari awal kita sudah kasih penguat."
Ditimpali lagi oleh suster, "Gitu malah mau kontrolnya bulan depan lho, dok."

Saya pun langsung merasa bersalah. Merasa egois karena harus mengorbankan si jabang bayi demi menghindari kecewa yang sama dengan pengalaman sebelumnya. Bukan karena terlalu percaya diri seperti yang dokter bilang, tapi saya menunda kontrol karena trauma dan tak mau telanjur excited. Sendiri datang ke tempat praktek dokter, saya merasa tersudutkan sore itu.

Ada luka di dekat pintu rahim, bukan rahimnya yang bermasalah. Dokter lalu memberi resep antibiotik, obat untuk memperlancar peredaran darah, penguat kandungan, dan vitamin kehamilan. Saya pulang membawa surat izin istirahat selama seminggu untuk kantor. Dalam harap saya menuruti saran untuk bedrest, dan meminum semua obat sesuai anjuran. Saya tak ingin gagal lagi.

Seminggu yang membosankan di atas kasur pun berakhir. Saya merasa sudah sekuat itu untuk kembali ke kantor dan melakukan aktifitas di rumah seperti biasanya. Tak ada flek yang keluar, hingga tepat seminggu kemudian. Kala itu saya menghabiskan weekend di rumah, yang tentu saja gerak jadi lebih banyak ketimbang di kantor.

Bukan flek cokelat lagi kali ini yang keluar, darah sudah bercucuran dibarengi nyeri yang lebih hebat dari akhir tahun lalu. Malam itu saya langsung dilarikan ke IGD di Rumah Sakit Mutiara Bunda, tempat dokter saya biasa praktek juga. Susternya tanggap dan sangat ramah, sehingga saya urung tegang.

Suster memeriksa langsung, menganalisa, dan saat itu juga menelepon dokter saya untuk minta arahan tindakan. Dokter Tis (panggilan dr. Sutiyoso) sedang di Surabaya waktu itu. Beliau meminta suster untuk tetap test urine. So, di tengah kucuran darah dan gumpalan-gumpalan yang juga mulai ikut keluar, saya mengambil sample urine.

Hasilnya masih positif. Dokter memintanya untuk memberikan penguat dan suntikan pereda nyeri pada saya. Setelah beberapa saat menunggu dan sudah tidak ada keluhan apa-apa, saya pun dipindahkan ke kamar. Pesan suster, saya tak boleh turun tempat tidur kecuali ke kamar mandi, dan harus pelan-pelan.

Terakhir kali saya dirawat inap di rumah sakit, 12 tahun lalu. Bukan karena sakit, justru tengah bahagia setelah kelahiran anak pertama kala itu. Sebelum dan setelahnya, saya memang tak pernah merasakan sakit sampai harus dirawat inap. Karenanya, tidur di kasur rumah sakit jadi sangat asing rasanya.

Keesokan harinya, dokter memeriksa langsung keadaan saya. Abortus mengancam, begitu diagnosanya. Beliau bilang, masih ada kesempatan 50% untuk mempertahankan si jabang bayi, itu yang akhirnya kami usahakan. Obat-obat pun diresepkan, dan kembali saya harus bedrest, totally bedrest, sepanjang seminggu.

Di hari kontrol, ditemani mas suami, saya datang ke tempat praktek dokter dengan perasaan yang campur aduk. Untuk menutupi rasa deg-degan, saya mencoba mencari hal-hal yang bisa bikin tertawa atau senang. Yang tadinya sudah siap dengan segala hasilnya nanti, akhirnya jadi resah lagi. Perasaan takut kehilangan itu muncul lagi.

Darah sudah empat hari tak keluar, tapi dari hasil pemeriksaan dokter, masih ada darah di dalam sana. Saya pun diminta test urine lagi. Masih strip dua, tapi kali ini yang satu sangat samar. Perkiraan dokter, ini hamil kosong. Saya diminta istirahat lagi sampai hari kontrol seminggu kemudian, hari di mana kami harus benar-benar mengucapkan selamat tinggal.

Saya ingin menangis, tapi air mata ini tak bisa keluar. Campur aduknya perasaan, bikin kondisi saya akhirnya drop. Tenggorokan mulai gatal, kepala mulai pusing, dan nyeri di perut juga mulai muncul lagi. Saya berusaha bersemangat, sangat berusaha. Seperti kata mas suami, nanti kami bakal bikin lagi.

😉

Comments

Post a Comment