Pamali Gembar-Gembor Kehamilan Sebelum Kandungan 3 Bulan?

Copyright: Shutterstock.com
​Ih, kabar baik kok disimpen sendiri?

Well, ada beberapa hal yang memang punya perkecualian. Bagi setiap perempuan menikah, strip dua dalam testpack tentu jadi kabar baik. Apalagi kalau momen ini memang sudah lama dinanti. Kabar baik memang seharusnya dibagi, kecuali... Jika kita merasa belum perlu berbagi kabar baik tersebut, pastinya dengan alasan tertentu, maka simpan saja.

Di hari pertama saya tahu kalau saya hamil, saya hanya berbagi dengan mas suami. Seminggu kemudian, saat hasil tes kedua masih dua strip, barulah saya berbagi dengan keluarga paling dekat, dan orang-orang 'penting' yang ada di kantor, tentu saja dengan harapan bahwa kabar ini hanya akan sampai di kami saja. Tidak saya sampaikan lugas, tapi cukup tersirat.

Ada alasan mengapa saya merasa harus berbagi kabar ini dengan mereka. Pekerjaan saya di kantor berkaitan sangat erat dengan mereka. Sebagai antisipasi kalau sewaktu-waktu saya drop atau berhalangan kerja karena efek kehamilan, mereka bakal sudah paham dan siap. Kok pikirannya sudah negatif duluan? Bukan begitu. Saya hanya berkaca dari pengalaman akhir tahun kemarin.

Pamali berkabar baik tentang kehamilan sebelum usia 3 bulan, begitu kata orang-orang tua. Ada yang percaya bahwa jika kita melanggar itu, maka sesuatu yang buruk akan terjadi pada janin. Alangkah baiknya kalau kita tak menelan mentah-mentah mitos semacam ini, agar tidak panik sendiri. Karena sesungguhnya, ada hal yang lebih masuk akal untuk menjelaskan ini semua.

Trimester pertama memang masa-masa rawan dalam kehamilan. Janin yang masih lemah, dan berbagai sebab masih menjadi ancaman di usia ini. Di beberapa artikel kehamilan yang kita baca, akan banyak saran untuk tidak melakukan banyak kegiatan secara fisik. Kita juga tak dibolehkan makan ikan mentah atau makanan yang pengolahannya dengan asap. Serta masih banyak lagi penyebab risiko keguguran.

Kondisi inilah yang sebenarnya jadi alasan mengapa kita disarankan untuk menyimpan dulu kabar bahagia sampai bulan ketiga, saat janin dianggap sudah kuat melekat. Alasannya? Over excited ditakutkan bakal jadi over depressed ketika apa yang kita harapkan itu ternyata pupus. Sementara banyak orang yang telanjur tahu, maka kesedihan akan jadi berkali lipat rasanya, saat pertanyaan-pertanyaan penasaran mereka ditujukan pada kita.

Namun tak jarang para perempuan hamil sudah percaya diri menyebarkan kabar baik tersebut, and see... Tak ada hal buruk pun menimpa mereka dan janinnya. Mereka bahkan semakin kuat dan bersemangat setelah menerima tumpukan ucapan selamat dari banyak orang. Seolah semesta ikut mendokan dan mendukung agar proses ini berjalan lancar.

Menurut saya pribadi, terkadang ketakutanlah yang justru mendorong kita lebih dekat pada apa yang kita takutkan itu. Meski begitu, antisipasi tetap perlu dilakukan. Mengingat saya sudah pernah kehilangan setengah tahun sebelum ini, maka saya merasa tak ada salahnya kalau kali ini lebih protective pada diri sendiri. Protective secara fisik dan batin, walau pada akhirnya pupus juga.

So, kesimpulannya, dikabarkan segera ataupun ditunda dulu berita bahagia tentang kehamilan kita, tak perlu menjadi soal.

😉

Comments