Mengenal Abortus Imminens yang Terjadi pada Saya, dan Cara Pencegahannya

Copyright: kidspot.co.nz
Dalam surat izin istirahat yang diberikan dokter sebelum pulang dari rumah sakit setelah saya mengalami pendarahan, tertulis abortus imminens. Saya belum punya gambaran dari istilah tersebut. Yang jelas dokter bilang kondisi saya saat itu terancam keguguran. "Masih ada kemungkinan 50%, ini yang akan kita raih," ujar dr. Sutiyoso sambil menuliskan resep.

Obat yang harus dibeli masih sama seperti obat yang saya minum dua minggu sebelumnya, waktu keluar flek cokelat. Ada antibiotik, obat pelancar peredaran darah, penguat kandungan, dan vitamin kehamilan. Instruksi pun masih sama, istirahat total, bedrest selama seminggu ke depan. Bedanya, kali ini saya sama sekali tidak boleh turun dari tempat tidur, kecuali ke kamar mandi.

Setelah istirahat cukup panjang, dan hasil akhir yang sebenarnya mengecewakan, karena ternyata saya tetap gagal hamil lagi, akhirnya saya mulai menyibukkan diri. Salah satunya dengan memulai blog ini, dan mencari tahu satu per satu hal-hal atau istilah dari dokter yang belum saya mengerti sebelumnya. Tentang abortus imminens, begini ceritanya...

Melansir dari klikdokter, abortus imminens merupakan peristiwa terjadinya perdarahan dari rahim pada kehamilan sebelum 20 minggu, di mana hasil konsepsi masih ada di dalam rahim, dan tanpa adanya pelebaran leher rahim. Ada ancaman terjadi keguguran yang ditandai dengan flek, meskipun janin masih terdapat di dalam rahim.

Persis seperti yang terjadi pada saya. Usia kandungan diperkirakan memasuki minggu ke-6 saat flek cokelat pertama kali muncul, dan memasuki minggu ke-8 saat darah dan gumpalan-gumpalan itu keluar. Diagnosa awal adanya infeksi ringan di luar pintu rahim, tidak mengancam, dan sudah membaik setelah konsumsi obat pertama kali.

Dokter memang tidak menyebutkan penyebab mengapa saya mengalami abortus imminens ini, tapi bisa dibaca di klikdokter bahwa beberapa penyebab yang mungkin antara lain infeksi, faktor hormonal, kelainan bentuk rahim, faktor imunologi (kekebalan tubuh), dan penyakit dari ibu. Untuk memastikan penyebab, diperlukan pemeriksaan USG atau uji laboratorium lebih lanjut.

Kemungkinan akibat yang terjadi dari abortus imminens ini adalah kelahiran prematur, dan yang terburuk adalah abortus spontan yang berujung pada kematian janin. Yang terjadi pada saya bisa jadi pilihan kedua, walau pada akhirnya dokter mendiagnosa saya hamil kosong saat kontrol dua minggu setelah kejadian pendarahan di rumah sakit itu.

Well, yang lalu biar saja berlalu. Sekarang waktunya fokus bersiap untuk kehamilan selanjutnya. Seperti yang ditulis di klikdokter, sebagai pencegahan, atau paling tidak, untuk mengurangi kemungkinan terjadinya abortus immines di kemudian hari, bisa dengan cara memeriksakan diri, mencari kemungkinan penyebab, dan mama juga harus mengonsumsi nutrisi yang cukup.

Go, mama!

Comments