Cerita tentang Insting Mencari Konten dan Empati Penulis

Hari itu saya agak memaksa editor saya, mbak Rianti Fajar untuk memberi izin menulis konten ini. Bahkan sebelum disetujui, artikelnya sudah selesai saya tulis. Untungnya beliau menerima dan mau menerbitkannya.

Di detik ketika saya kepikiran untuk menulis konten ini, saya langsung cek Google search dengan kata kunci 'bidan viral', seperti yang sedang beredar di media sosial, terutama TikTok. Saat saya cek, hanya ada satu media yang sudah membahasnya, dan tentu saja media tersebut salah satu milik perusahaan tempat saya bekerja dulu.

Liputan6 mengambil sudut pandang seorang ibu yang sempat pakai makeup sambil proses lahiran, dengan wajah tenang dan terus tersenyum, tanpa ada ekspresi kesakitan. Namun insting saya bilang, yang bakal banyak dicari bukan si ibu, tapi justru bidannya.

Memutar otak, akhirnya jadilah artikel dengan sudut pandang seperti tertera pada gambar di awal tulisan ini. Senang banget waktu mbak Rianti mengabarkan bahwa konten tersebut masuk Top Stories di Google search. Sensasi yang sudah lama nggak saya rasakan semenjak resign dari kantor lama.

Menjadi penulis dan editor di KapanLagi Youniverse sejak 2011 sampai 2018, mengasah insting saya dalam mencari konten. Bukan semata karena target jumlah konten harian dan pageview, atau portal berita online yang wajib update (kalau perlu) tiap detik, tapi juga karena jiwa kompetitif saya (sebagai bagian dari perusahaan) yang selalu ingin media yang saya pegang jadi terdepan.

Insting mencari konten ini tidak terbentuk begitu saja. Insting ini diasah. Makin kita sering menulis hard news, makin pula kita peka. Pekerjaan saya sebagai penulis di Kapanlagi dimulai dari target 15 konten per hari, sampai akhirnya menyusut jadi 7 konten per hari.

Insting mencari konten juga tidak didapat jika kita tidak suka mengikuti perkembangan zaman dan media sosial. Menghindari instal TikTok adalah kesalahan besar wahai kalian yang saat ini bekerja sebagai pemburu bahan artikel viral.

Benar adanya, TikTok sangat berbeda dengan yang lain. TikTok mengubah banyak hal dalam kehidupan sosial. Bahkan, TikTok mampu menebarkan cinta kasih lebih luas antar sesama manusia, meski itu juga tergantung algoritma dan apa yang kebetulan lewat di timeline kita.

Kalau kamu adalah penulis-penulis baru di sebuah portal berita online, asahlah insting mencari kontenmu dengan baik dan bermainlah dengan bersih. Tulislah keindahan, bukan umpan kemarahan. Tulislah dari sudut pandang yang membangun, bukan yang membuat orang ingin berghibah.

Tak bisa dipungkiri, dalam dunia media belakangan ini, ungkapan 'bad news is a good news' adalah kunci kesuksesan menarik minat pembaca. Bisa kok 'bad news' tersebut dikemas dengan elegan, tanpa harus menyinggung perasaan siapa pun.

Jadilah penulis yang selain punya insting kuat, juga memiliki empati besar.

Comments